KOMPONEN KURIKULUM ANAK USIA DINI

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, seluruh jenjang dan jenis pendidikan
yang ada harus berupaya maksimal untuk mengembangkan secara seimbang seluruh
aspek kepribadian anak, termasuk didalamnya kecerdasan intelektual, kepekaan hati
nurani, iman, dan keterampilan berperilaku/bertindak. Namun dalam beberapa dekade
yang lampau nampak bahwa hampir seluruh jenis dan jenjang pendidikan, khususnya
pendidikan formal, lebih menekankan pengembangan aspek kecerdasan intelektual, dan
menomorduakan pengembangan kepekaan hati nurani, iman, dan keterampilan
berperilaku yang secara ringkas sering disebut budi pekerti

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, seluruh jenjang dan jenis pendidikan
yang ada harus berupaya maksimal untuk mengembangkan secara seimbang seluruh
aspek kepribadian anak, termasuk didalamnya kecerdasan intelektual, kepekaan hati
nurani, iman, dan keterampilan berperilaku/bertindak. Namun dalam beberapa dekade
yang lampau nampak bahwa hampir seluruh jenis dan jenjang pendidikan, khususnya
pendidikan formal, lebih menekankan pengembangan aspek kecerdasan intelektual, dan
menomorduakan pengembangan kepekaan hati nurani, iman, dan keterampilan
berperilaku yang secara ringkas sering disebut budi pekerti

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
KOMPONEN KURIKULUM
1. TUJUAN
Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.
2. BAHAN PEMBELAJARAN
Merupakan seperangkat rencana dan pengaturan kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar, bahan pembelajaran yang disusun secara sistematis dan berisikan komponen-komponen yang saling berkaitan untuk memenuhi target pencapaian kompetensi dasar.
3. PROSES BELAJAR MENGAJAR
Kegiatan pembelajaran dirancang mengikuti prinsip-prinsip belajar mengajar, baik terkait dengan keluasan bahan/materi,pengalaman belajar, tempat dan waktu belajar, alat/sumber belajar, bentuk pengorganisasian kelas dan cara penialian. Dalamkegiatan pembelajaran guru perlu memberikan dorongan kepada peserta didik untuk mengungkapkan kemampuannya dalam membangun gagasan. Guru berperan sebagai fasilitator dan bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab peserta didik untuk belajar. Disamping itu guru dalam mengelola kegiatan berbagai pihak yang terlibat didalam pembelajaran dan harus pandai memotivasi peserta didik untuk terbuka, kreatif, responsif, interaktif dalam kegiatan pembelajaran. Kualitas pendidkan dapat diukur dan ditentukan oleh sejauh mana kegiatan pembelajaran tertentu dapat menjadi alat perubah tingkah laku peserta didik ke arah yang sesuai dengan tujuan/kompentensi yang telah ditetapkan.

4. PENILAIAN
Suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan, menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan serta perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui kegiatan pembelajaran.








KOMPONEN KURIKULUM YANG LAINNYA :
Menurut Akhmad Sudrajad : Kurikulum memiliki lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) materi; (3) strategi, pembelajaran; (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. Kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan.
A. Tujuan
Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia, hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan, melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya, yang disesuaikan dengan falsafah negara, keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Kendati demikian, dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. Seperti yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh, 1994) bahwa tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu:
1. Autonomy; gives individuals and groups the maximum awarenes, knowledge, and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent.
2. Equity; enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them an equal basic education.
3. Survival ; permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generation but also guide education towards mutual understanding and towards what has become a worldwide realization of common destiny.)
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”..
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual, oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran.
Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata lain, tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Lebih jauh lagi, dengan mengutip dari beberapa ahli, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran, yakni :
1. Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik, dengan : (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati; (b) menunjukkan stimulus yang membangkitkan perilaku peserta didik; dan (c) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orang-orang yang dapat diajak bekerja sama.
2. Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik, dalam bentuk: (a) ketepatan atau ketelitian respons; (b) kecepatan, panjangnya dan frekuensi respons.
3. Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku peserta didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik; dan (b) kondisi atau lingkungan psikologis.
Upaya pencapaian tujuan pembelajaran ini memiliki arti yang sangat penting.. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya.
Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya. Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif.
Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif.
Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya, maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama.
Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi.
Dalam implementasinnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan dengan tantangan yang sangat kompleks boleh dikatakan hampir tidak mungkin untuk merumuskan tujuan-tujuan kurikulum dengan hanya berpegang pada satu filsafat, teori pendidikan atau model kurikulum tertentu secara konsisten dan konsekuen. Oleh karena itu untuk mengakomodir tantangan dan kebutuhan pendidikan yang sangat kompleks sering digunakan model eklektik, dengan mengambil hal-hal yang terbaik dan memungkinkan dari seluruh aliran filsafat yang ada, sehingga dalam menentukan tujuan pendidikan lebih diusahakan secara bereimbang. .
B. Materi Pembelajaran
Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :
1. Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
2. Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
3. Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
4. Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
5. Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
6. Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
7. Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
9. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
10. Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif.
Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :.
1. Sahih (valid); dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Di samping itu, juga materi yang diberikan merupakan materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman, dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan.
2. Tingkat kepentingan; materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.
3. Kebermaknaan; materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Layak dipelajari; materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.
5. Menarik minat; materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.
Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi, Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran, yaitu :
1. Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.
2. Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.
3. Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.
4. Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian, dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari fungsi ke struktur, dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.
5. Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.
6. Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c) pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.
7. Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.
8. Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir.
C. Strategi pembelajaran
Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi pembelajaran, hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi pembelajaran yang hendak dikembangkan. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran adalah penguasaan informasi-intelektual,–sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian, maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya, sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok.
Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.
Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator, guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal.
Selanjutnya, dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam pendekatan klasik, tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara individual. Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru, seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning, yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, ternyata banyak kemungkinan untuk menentukan strategi pembelajaran dan setiap strategi pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulannya tersendiri.
Terkait dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, belakangan ini mulai muncul konsep pembelajaran dengan isitilah PAKEM, yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Oleh karena itu, dalam prakteknya seorang guru seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif, menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi.
D. Organisasi Kurikulum
Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
2. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
3. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
4. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
5. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
6. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) kelompok mata pelajaran estetika; dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
E. Evaluasi Kurikulum
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum”
Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; “ objective, it’s scope, the quality of personnel in charger of it, the capacity of students, the relative importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and materials and so on.”
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Dengan mengutip pemikian Doll, dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of value and valuing, orientation to goals, comprehensiveness, continuity, diagnostics worth and validity and integration.”
Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori, interview, catatan anekdot dan sebagainya
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata, 1997)
Selanjutnya, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum, yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif); (2) pendekatan obyektif; dan (3) pendekatan campuran multivariasi.

selanjutnya boss.. »»

Deteksi Dini Anak Berkebutuhan Khusus

Seorang ibu bercerita dalam sebuah arisan… anaknya sekarang jika tidur tidak mau sendiri..kalau ditinggal akan berteriak-teriak dan menangis seperti ketakutan…”aku sampai bingung, ada apa dengan anakku?”
Seorang ibu bercerita dalam sebuah arisan… anaknya sekarang jika tidur tidak mau sendiri..kalau ditinggal akan berteriak-teriak dan menangis seperti ketakutan…”aku sampai bingung, ada apa dengan anakku?”

wah aku heran benar sama muridku yang satu itu…kejadian seperti ini terus berualng dari sejak dia masuk TK, seperti misalnya kemarin waktu makan bersama, seharusnya dia duduk bersama teman-temannya yang lain, tetapi dia justru berdiri di dekat kipas angin dan menyala matikan kipas angin sampai berulang-ulang...kenapa dia ya?”

Anak Non Normatif

 Medical model
 Abnormality as deviation from average
 Abnormality as deviation from the ideal

Faktor yg mempengaruhi…
 Biological birthright
 Konteks sosial

Gangguan bahasa
 Gagap
 Ekspresif
 ReseptifStuttering



GAGAP
 Pengulangan suara/suku kata
 Perpanjangan suara
 Penambahan/interjection
 Broken words
 audible/silent blocking
 Circumlocution/mengganti kata

~ Muncul 2-7 th
3% lebih besar pd laki2 80% hilang setelah memasuki SD
71% keturunan à Perkembangan abnormal di lokasi yg berhubungan dg pusat bhs di otak (hemispher kiri)
Self esteem

penanganan
Mengajarkan bicara perlahan-lahan
Menggunakan kalimat pendek sederhana
Memindahkan tension pd saat bicara


Ekspresif dan reseptif
• Terdapat jarak antara apa yg dimengerti dgn apa yg akan dikatakan.
• Kesulitan dlm memahami aspek dr bicara
• Sering dianggap tdk patuh
Penyebab
• Genetik (50-70%)
• Fungsi otak – pusat lobus temporal kiri
• Infeksi telinga tengah
• Lingk rumah
penanganan
• Menggali minat anak
• Terapi wicara
Insecure _ penakut
Sumber ketakutan
– Luka fisik, operasi, ketakutan utk diculik
– Kejadian alam
– Stres psikis (kejadian di sekolah, berbuat salah
2-4 th à binatang, badai, gelap, org asing
4-6 th à ketakutan imajiner

penanganan
Bermain
Menunjukkan empati & dukungan
Mengekspos situasi yg menakutkan kpd anak
Menjadi model
Memberi reward thd keberanian


Insecure _ rendah diri Insecure _ rendah diri
Self esteem rendah
Merasa tdk mampu, pesimis, & mudah kecil hati
Penanganan
Meningkatkan pemahaman diri
Mendukung kompetensi & kemandirian anak
Menyediakan kehangatan & penerimaan
Fokus pd hal positif yg dpt dilakukan anak
Menyediakan pengalaman konstruktif
Meningkatkan rasa percaya diri
Memberikan reward


Insecure _ pemalu
Merasa diri lemah, berbeda
Kurang mengambil inisiatif
Senang bermain soliter
penanganan
Mendukung & memberi reward thd sosialisai anak
Mendukung kepercayaan diri & sikap wajar
Menyediakan suasana hangat, penuh penerimaan
Melatih ketrampilan sos (main peran, hand puppet, modelling)
Menyediakan agen sosialisasi
Membuat kegiatan yg merangsang utk interaksi

Insecure _ pencemas
Komponen dasar
– Keadaan subjektif (ketegangan, ketakutan)
– Respon TL (terganggunya fs bicara, menghindar)
– Respon psikologis (otot tegang, tekanan darah, mulut kering, mual)
Konsep diri buruk
Penanganan
Menerima anak & menenangkan hati
Variasi strategi (misal kegiatan yg tdk kompetitif)
Mendorong anak mengekspresikan perasaan
Meningkatkan pemahaman & pemecahan mslh
Meminta bantuan

Fobia
Ketakutan intens & irasional thd objek/kejadian ttt
Ketakutan yg tdk proporsional, tdk dpt dikontrol scr sengaja, menyebabkan individu menghindar, bertahan lama, mal-adaptif
Agoraphobia – ruang terbuka
Claustrophobia – ruang tertutup
Acrophobia – ketinggian
Penanganan
– Participatory modelling
– Shock therapy

Obsesi kompulsi
Pikiran/bayangan yg tdk dpt dicegah
Tindakan stereotip – berulang
Intelegensi di atas rata2, pandangan kaku disertai perasaan bersalah
Penyebab : misteri à genetik
Penanganan medis
Penanganan response prevention

Anti sosial
Ketidakpatuhan
Schaefer & Millman
Bentuk
The passive resistant
The openly defiant
Spiteful type of noncompliance

penyebab : ortu permisif, disiplin kaku, ortu berada dlm stres/konflik, lelah, sakit, lapar, tekanan emosional
Kerjasama
Menciptakan hub yg akrab
Responsif
Modelling
Aturan jelas, spesifik, konsisten


Temper tantrum
 Ekspresi kemarahan kuat, lepas kontrol, disertai perilaku menangis, menjerit, menghentakkan kaki, tangan, agresif

 Pemicu : kelelahan, frustrasi, penolakan


 Jenis :
 Manipulative tantrum
 Verbal frustration tantrum
 Temperamental tantrum
 Ekspresi kemarahan kuat, lepas kontrol, disertai perilaku menangis, menjerit, menghentakkan kaki, tangan, agresif


Retardasi mental
• Taraf kecerdasan dibawah rata-rata < 70 • Lambat belajar, • Keterbatasan kecerdasan praktis & sosial • Penyebab : – Kelebihan kromosom pd no 21 – Radiasi sinar X, gizi buruk, obat-obatan (antibiotik, hormon, steroid, narkotika, obat penenang, vit A dan k berlebihan), rhesus – Penolakan ortu • Penanganan – Mengenalkan materi perlahan – Membantu memusatkan perhatian terlebih dahulu – Nyata dan bertahap Down syndrome • Mutasi gen pd kromosom 21 • Ukuran kepala kecil, lidah besar, mulut kecil, bentuk mata dengan kelopak mata seakan-akan sulit membuka, leher pendek, telapak tangan persegi empat lebar, jari pendek melengkung • Biasanya retardasi mental Gangguan ADD/ADHD  Attention deficit disorder /GPP  Attention deficit and hiperactive disorder  Ketidakseimbangan neurotransmitter/penghantar sinyal syaraf pd 3 area otak  Komplikasi proses kelahiran, berat lahir < 2500gram  Inatttention, impulsivitas, hiperaktivitas, disorganisasi, relasi sosial, agresif, konsep diri, perilaku mencari sensasi, melamun, koordinasi motorik, daya ingat, pola pikir/ide obsesif penanganan  In attentif  Anak duduk dekat guru/di depan  Gunakan isyarat pribadi  Instruksi lisan & tertulis  Tugas yg sedehana  Meminta bantuan dr siswa lain utk schafolding  Hiperaktif  Kesempatan jeda dr duduk, peregangan  Posisi yg memungkinkan berdiri tanpa mengganggu siswa lain  Manfaat energi anak  Kegiatan pergerakan tubuh & interaksi aktif guru-siswa  Impulsif  Persiapkan siswa utk ms transisi antar kegiatan  Beri pujian/reward utk perilaku positif  Aturan jelas utk bertindak dlm kelas  Jelaskan konsekuensi jika melanggar & konsisten Autism • Impairment komunikasi, impairment interaksi sosial, perkemb motorik tdk seimbang, munculnya pola perilaku yg stereotipe dan repetitive • Karakteristik – Perkembangan terlambat – Lebih tertarik dg benda – Tdk mau dipeluk – Kelainan sensoris – Menunjukkan pola tertentu Metode lovaas • Applied Behavior Analysis • Ivar Lovaas • Pemberian reward & punishment • Penekanan pd kemampuan bhs, sos emosi, akademis, bantu diri Sensory integration therapy Peningkatan kemampuan integrasi sensoris ayunan, bola, sikat dan baju lembut, parfum, lampu berwarna, pemijatan, barang bertekstur variasi. Penanganan guru belajar menyelami emosi terus memberi stimulasi melatih instink sosial jadual pasti mengembangkan potensi anak Agresif Perilaku luar biasa Kronis (menetap) Tdk sesuai norma sosial Karakteristik  Sering berkelahi  Mengonarkan barang milik orla  Berbohong  Membolos  Menyiksa binatang  Melukai orla penyebab Biologis  Alkohol Keluarga  Disiplin tdk konsisten, permisif, keras penuh tuntutan, hukuman tdk tepat,kurang memonitor anak, krg memberi aturan, komunikasi kurang, ortu gagal mjd model, ibu/ortu depresif, penolakan ortu Sekolah  Prestai rendah, ditolak teman, disiplin kaku/longgar, inkonsisten, guru/teman mjd model Budaya  Fenomena di masyarakat penanganan Semua pihak Berlatih mengungkapkan perasaan yg dirasakan (role play) Model Membantu penyelesaian tugas Komunikasikan dg ortu Memahami anak yg mjd korban

selanjutnya boss.. »»

PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG ANAK MELALUI PENGUKURAN BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN

Anak merupakan aset yang paling berharga bagi orang tua, bangsa dan negara. Kita selaku pendidik harus benar-benar mengerti proses tumbuh kembang anak secara benar. Karena setiap anak tumbuh dan berkembang melalui proses belajar tentang dirinya sendiri di dunia sekitarnya. Proses pembelajaran ini berlangsung dan berkesinambungan terus selama masa hidup seseorang, sejak anak usia bayi sampai usia dewasa. Ketika anak mulai beranjak usia, maka duniannya pun berkembang di dunia rumah, dan beran
Anak merupakan aset yang paling berharga bagi orang tua, bangsa dan negara. Kita selaku pendidik harus benar-benar mengerti proses tumbuh kembang anak secara benar. Karena setiap anak tumbuh dan berkembang melalui proses belajar tentang dirinya sendiri di dunia sekitarnya. Proses pembelajaran ini berlangsung dan berkesinambungan terus selama masa hidup seseorang, sejak anak usia bayi sampai usia dewasa. Ketika anak mulai beranjak usia, maka duniannya pun berkembang di dunia rumah, dan beranjak ke dunia luar rumah.
Untuk dapat berfungsi dengan baik dilingkungan dimana si anak hidup, anak belajar untuk mengenal dirinya sendiri dan membentuk identitas pribadi. Anak juga belajar memahami proses interaksi sosial dan mengenali kesamaan maupun perbedaan yang dimilikinya terhadap orang lain yang berada di lingkungan sekitarnya. Bersamaan proses pembelajaran tersebut anak juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan di dalam dirinya secara fisik maupun mental. Pada usia 0 – 5 tahun itu merupakan masa keemasaan pada anak, karena di usia tersebut tumbuh kembang anak berkembang pesat dan diusia tersebutmerupakan awal terbentuknya kepribadian anak dan diusia 5 tahun adalah masa paten terbentuknya kepribadian seseorang. Untuk itu kita sebagai pendidik harus menanamkan moral atau tingkah laku serta hal-hal yang baik, karena kita sebagai model yang ditiru oleh anak didik kita. Selain kita sebagai pendidik, orang tua dan lingkungan sekitar juga ikut mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
Tujuan kita dalam mendidik anak didik kita adalah mencetak anak didik yang insya allah menjadi seseorang atau pribadi yang berakhlak, bermoral, berbudi pekerti yang baik, beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sehingga anak dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bermanfaat bagai keluarga serta lingkungan, masyarakat dimana ia tinggal. Untuk dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan diatas kita bertanggung jawab dan memegang peranan penting terhadap proses tumbuh kembang anak didik kita. Dan juga perlu kita ketahui bahwa setiap anak mengalami pengalaman tumbuh kembang yang unik dengan kecepatan tumbuh kembang masing-masing anak itu berbeda. Bahkan, pada anak yang berasal dari keturunan yang sama, latar belakang sama, cara hidup dan lain-laian sama, tetapi proses tumbuh kembang dan pengalaman anak dalam tahapan tumbuh kembang dan percepatannya berbeda-beda, karena banyak faktor penting yang mempengaruhinya seorang anak untuk dapat tumbuh menjadi suatu pribadi yang utuh.
Untuk itu kita sebagai pendidik harus banyak belajar tentang proses tumbuh kembang anak, misalnya dengan berlangganan majalah anak, ikut seminar dan buku-buku lain tentang tumbuh kembang anak. Supaya kita tidak salah dalam menyikapi perilaku akibat tumbuh kembang anak di sekolah. Dan yang bisa kita lakukan di sekolahuntuk mengetahui tumbuh kembang anak didik kita mengalami perubahan atau tidak, dan pertumbuhan anak didik kita itu ormal atau tidak, kita bisa memantau dan mengukur berat badan anak menurut tinggi badan anak, karena cara ini mudah dan praktis untuk dilakukandisekolah, sehingga status gizi anak dapat diketahui. Dari ini penulis ingin mengambil judul “UPAYA GURU DALAM PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG ANAK TK MELALUI PENGUKURAN BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN ANAK DI PAUD TUNAS MEKAR”. Semoga dengan mengetahui proses tumbuh kembang anak kita sebagai pendidik dan orang tua leih bijak dalam menyikapi tumbuh kembang anak yang berbeda-beda itu.

selanjutnya boss.. »»

MODEL PEMBELAJARAN BERKELOMPOK

1. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas yang meliputi penataan ruangan maupun pengorganisasian peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan dan program yang direncanakan akan membantu pencapaian pembelajaran yang optimal. Untuk hal itu perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah :
1. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas yang meliputi penataan ruangan maupun pengorganisasian peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan dan program yang direncanakan akan membantu pencapaian pembelajaran yang optimal. Untuk hal itu perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah :
• Penataan perabot ruangan harus disesuaikan dengan kegiatan yang dilaksanakan.
• Pengelompokan meja dan kursi anak disesuaikan dengan kebutuhan sehingga ruang gerak peserta didik leluasa. Susunan meja kursi dapat berubah-ubah. Pada waktu mengikuti kegiatan, anak tidak selalu duduk di kursi, tetapi juga duduk di tikar/karpet.
• Dinding dapat digunakan intuk menempelkan sarana yang dipergunakan sebagai sumber belajar dan hasil kegiatan anak, tetapi jangan terlalu banyak sehingga dapat menggangu perhatian anak.
• Peletakan dan penyimpanan alat bermain diatur sedemikian rupasesuai dengan fungsinya sehingga dapat melatih anak untuk pembiasaan yang ingin dicapai, antara lain, kemandirian, tanggung jawab, membuat keputusan.

Alat bermain untuk kegiatan pengaman diatur dalam ruangan sedemikian rupa apabila diperlukan peserta didik.

2. Langkah-langkah kegiatan
Kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran kelompok menggunakan langkah-langkah sebagi berikut :
a. Kegiatan Pendahuluan / awal]
Kegiatan pendahuluan awal dilaksanakan secara klasikal artinya kegiatan dilakukan oleh seluruh anak dalam satu kelas, dalam satu satuan waktu dengan kegiatan yang sama dan sifatnya pemanasan, misalnya berdiskusi dan Tanya jawab tentang tema dan sub tema atau pengalaman yang dialami oleh anak. Jika pada waktu diskusi terjadi kejenuhan diharapkan guru dapat membuat variasi kegiatan, misalnya kegiatan fisik/motorik atau permainan yang melatih pendengaran anak.
b. Kegiatan Inti
Sifat dari kegiatan inti ini adalah kegiatan yang mengaktifkan perhatian, kemampuan dan social emosi anak. Kegiatannya terdiri dari bermacam-macam kegiatan bermain yang dipilih dan disukai anak agar dapat berekplorasi, bereksperimen, meningkatkan pengertian-pengertian, konsentrasi, memunculkan inisiatif , kemandirian dan kreatifitasnya serta dapat membantu dan mengembangkan kebiasaan bekerja yang baik.

Pada kegiatan ini anak terbagi beberapa kegiatan kelompok, artinya dalam satu satuan waktu tertentu terdapat beberapa kelompok anak melakukan kegiatan yang berbeda-beda. Pengorganisasian saat kegiatan pada umumnya dengan kegiatan kelompok namun ada kalanya diperlukan menggunakan kegiatan klasikal maupun individual.

Sebelum anak dibagi menjadi kelompok, guru menjelaskan kegiatan atau hal-hal yang berkaitan dengan tugas masing-masing kelompok secara klasikal. Pada kegiatan inti dalam satu kelas dibagi bebarapa kelompok. Guru dan anak dapat memberi nama massing-masing kelompok. Anak diberi kebebasan untuk memilih kegiatan yang ada pada kelompok yang diminatinya dan tempat yang disediakan. Semua anak hendaknya secara bergantian mengikuti kegiatan-kegiatan yang direncanakan guru. Setelah anak dapat mengikuti kegiatan secara teratur, maka anak boleh memilih kegiatan sendiri dengasn tertib.

Anak-anak yang sudah menyelesaikan tugasnya lebih capat daripada temannya dapat meneruskan kegiatan di kelompok lain. Jika tidak tersedia tempat, anak tersebut dapat melakukan kegiatan di kegiatan pengaman. Fungsi kegiatan pengaman adalah :
1. sebagai tempat kegiatan anak yang telah menyelesaikan tugasnya lebih cepat sehingga tidak menggangu teman lain.
2. Untuk memotivasi anak agar cepat menyelesaikan tugasnya.
3. Untuk mengembangkan aspek emosional, social, kemandirian, kerjasama dan kreativitas anak.

Sebaiknya alat-alat yang disediakan pada kegiatan pengaman lebih bervariasi dan sering diganti disesuaikan dengan tema atau sub tema yang dibahas.

Pada wktu kegiatan kelompok berlangsung, guru tidak berada disatu kelompok saja melainkan juga memberikan bimbingan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan walaupun peserta didik tersebut berada di kelopmpok lain.

c. Istirahat/Makan
Kegiatan ini kadng-kadang dapat digunakan untuk mengisi indicator/kemampuan yang hendak dicapai yang berkaitan dengan kegiatan makan, misalnya tata tertib makan, jenis makanan bergizi, rasa social dan kerjasama. Setelah kegiatan makan selesai, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk bermain dengan alat permainan diluar kelas yang bertujuan mengembangkan fisik/motorik. Apabila dianggap waktu istirahat kurang, guru dapat menambah sendiri waktu istirahat dengan tidak mengambil wakt kegiatan lainnya, misalnya bermain sebelum kegiatan awal atau sudah kegiatan penutup.
d. Penutup
Kegiatan yang dilaksanakan pada kegiatan penutup bersifat menenangkan anak dan diberikan secara klasikal, misalnya membaca cerita dari buku, pantomime, menyanyi atau apresiasi musik dari berbagai daerah.

Kegiatan ini diakhiri dengan Tanya jawab mengenal kegiatan yang berlangsung, sehingga anak mamaknai kegiatan yang dilaksanakan.

3. Penilaian
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung guru hendaknya mencatat segala hal yang terjadi baik terhadap program kegiatannya maupun terhadap perkembangan peserta didik. Segala catatan guru digunakan sebagai bahan masukan bagi keperluan penilaian.

B. MODELPEMBELAJARAN BERDASARKAN SUDUT-SUDUT KEGIATAN

1. Pengelolaan Kelas
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas pada model pembelajaran berdasarkan Sudut-sudut Kegiatan adalah :
a. Pengaturan alat bermain dan perabot ruangan, termasuk meja, kursi, dan luasnya ruangan, disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan, khusunya pada sudut-sudut kegiatan.
b. Sumber belajar dan hasil kegiatan anak dapat dipajang dipapan atau dinding ruangan. Hasil karya anak, dapat juga disimpan di laci masing-masing anak sebagai portofolio.
c. Setelah digunakan untuk pembelajaran, alat bermain dirapikan dan disimpan sedemikian rupa sehingga dapat melatih anak untuk pembiasaan yang ingin dicapai seperti kemadirian, tanggung jawab, membuat keputusan, kebiasaan mengatur kembali peralatan dan sebagainya.

2. Langkah-langkah Kegiatan
a. Kegiatan Awal (± 30 menit)
Kegiatan yang dilaksanakan adalah bernyanyi, berdo`a, mengucapkan salam, membicarakan tema/sub tema, diskusi kegiatan yang akan dilaksanakan, melakukan kegiatan fisik/motorik.
b. Kegiatan Inti ((± 60 menit) secara individual disudut-sudut kegiatan
Sebelum melaksanakan kegiatan inti, guru bersama anak membicarakan tugas-tugas yang diprogramkan di sudut-sudut kegiatan. Setelah itu guru menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan disetiap sudut kegiatan yang diprogramkan. Sudut yang dibuka setiap hari di sesuaikan dengan indicator yang dikembangkan dan sarana/alat pembelajaran yang ada. Kemudian anak dibebaskan untuk memilih sudut kegiatan yang disukai sesuai dengan minatnya. Anak dapat berpindah sudut kegiatan sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh guru.
c. Istirahat/Makan ((± 30 menit)
Kegiatan makan bersama menanamkan pembiasaan yang baik, misalnya mencuci tangan, berdo`a sebelu dan sesudah makan, tata tertib makan, mengenalkan jenis makanan, menumbuhkan rasa social dan kerjasama, membereskan dan merapikan alat-alat makan dan sebagainya.
e. Kegiatan Akhir ((± 30 menit)
Kegiatan akhir dilaksanakan secara klasikal, misalnya dengan bercerita, bernyanyi, gotong royong membersihkan kelas, diskusi kegiatan sehariyang telah dilakukan, informasi kegiatan esok hari, berdo`a, dan mengucapkan salam.

3. Penilaian
Penilaian yang dilakukan pada model pembelajaran ini sam dengan penilaian pada model pembelajaran kelompok dengan Kegiatan Pengaman, yaitu selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru mencatat segala hal yang terjadi baik terhadap perkembangan peserta didik maupun program kegiatan sebagai dasar bagi keperluan penialian.

C. MODEL PEMBELAJARAN AREA
1. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas pada model pembelajaran area meliputi pengorganisasian peserta didik, pengaturan area yang diprogramkan, dan peranan guru. Untuk hal-hal yang diperlukan dalam pengelolaan kelas adalah :
a. Alat bermain, sarana prasarana diatur sesuai dengan area yang diprogramkan pada hari itu.
b. Kegiatan dapat dilakukan dengan menggunakan meja-kursi, karpet atau tikar sesuai dengan alat yang digunakan.
c. Pengaturan area memungkinkan guru dapat melakukan pengamatan sehingga dapat memberikan motivasi, pembinaan, dan penilaian.
d. Guru memperhatikan perbedaan individu setiap peserta didik pada saat mereka melakukan kegiatan di area.

2. Langkah-langkah Kegiatan
a. Kegiatan Awal ± 30 menit (klasikal)
Kegiatan yang dilaksanakan adalah melatih pembiasaan, misalnya menyanyi, memberi salam dan berdo`a. Bercerita tentang pengalaman sehari-hari dan setiap anak bercerita, 3 atau 4 anak bertanya tentang cerita anak tersebut, membicarakan tema/sub tema, melakukan kegiatan fisik/motorik yang dapat dilakukan diluar atau didalam kelas.
b. Kegiatan Inti ± 60 menit (Individual di Area)
Sebelum melakukan kegiatan inti, guru bersama anak-anak membicarakan tugas-tugas di area yang diprogramkan. Setelah itu peserta didik dibebaskan memilih area yang disukai sesuai dengan minatnya. Guru menjelaskan kegiatan-kegiatan di dalam area yang diprogramkan. Area yang dibuka setiap hari disesuaikan dengan indicator yang dikembangkan dan sarana pembelajaran yang ada. Anak dapat berpindah area sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh guru. Apabila terdapat anak tidak mau melakukan kegiatan di area yang diprogramkan, guru harus memotivasi anak tersebut agar mau melakukan kegiatan. Guru dapat melayani anak dengan membawakan tugasnya ke area yang sedang diminatinya.

Guru melakukan penilaian dengan memakai alat penilaian yang telah disiapkan, tetapi dapat juga untuk mengetahui kea rah mana saja minat anak hari itu dengan menggunakan ceklis (v) di setiap area.

Bagi kegiatan yang memerlukan pemahaman atau yang membahayakan, jumlah anak dibatasi agar guru dapat memperhatikan lebih mendalam proses dan hasil yang dicapai secara maksimal, tanpa mengabaikan anak-anak yang berada di area yang lain.

Orang tua/keluarga dapat dilibatkan untuk berpartisipasi membantu guru pada waktu kegiatan pembelajaran, membrikan sesuatu yang bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan anak.

c. Istirahat/makan ± 30 menit
Kegiatan makan bersama menanamkan pembiasaan yang bai, misalnya mencuci tangan, berdo`a sebelum dan sesudah makan, tat tertib makan, mengenal jenis makanan bergizi, menumbuhkan rasa social (berbagi makanan) dan kerjasama. Melibatkan anak membersihkan sisa makanan dan merapikan peralatan makan yang telah digunakan. Setelah kegiatan makan selesai, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk bermain dengan alat permainan yang bertujuan mengembangkan fisik/motorik. Apabila dianggap waktu untuk istirahat kurang, guru dapat menambah waktu istirahat dengan tidak mengambil waktu kegiatan lainnya, misalnya bermain sebelum kegiatan awal atau sesudah kegiatan penutup.

d. Kegiatan Akhir ± 30 menit (klasikal)
Kegiatan akhir dilaksanakan secara klasikal, misalnya menyanyi, cerita dari guru atau membaca puisi dilanjutkan dengan diskusi tentang kegiatan satu hari dan menginformasikan kegiatan esok hari, berdo`a, salam, dan pulang.

3. Penilaian
Penilaian yang dilakukan pada model pembelajaran Area pada hakikatnya tidak berbeda dengan model-model pembelajaran sebelumnya karena selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru mencatat segala hal baik terhadap perkembangan peserta didik maupun program kegiatannya sebagai dasar bagi keperluan penilaian.

D. MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN SENTRA
1. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas model pembelajaran sentra meliputi pengelolaan secara klasikal, kelompok dan individual. Pada saat kegiatan pembukaan, saat kegiatan penutup, dan saat makan besama guru menggunakan pengelolaan secara klasikal, tetapi pada saat kegiatan inti menggunakan pengelolaan secara kelompok atau individual. Untuk itu hal-hal yang dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut :
- Sentra bermain dirancang dan direncanakan, sehingga semua peserta didik dapat mengikuti kegiatan untuk mencapai tahap perkembangan.
- Kegiatan pembelajaran dilengkapi dengan sentra-sentra yang diperlukan hari itu.]
- Jumlah dari kegiatan dan ragam kesempatan masing-masing sentra sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dan jumlah anak.
- Ada kesesuaian antara pijakan, sentra, dan alat yang akan dipergunakan dalam pembelajaran.

2. Langkah-langkah kegiatan
a. Penataan Lingkungan Bermain
Sebelum anak datang, guru mempersiapkan bahan dan alat bermain yang digunakan sesuai rencana dan jadwal kegiatan yang telah disusun untuk kelompok yang dibimbingnya. Guru menempatkan alat dan bahan bermain yang akan digunakan yang mencerminkan rencana pembelajaran yang telah dibuat sehingga tujuan anak selama bermain dengan alat tersebut dapat dicapai.
b. Kegiatan Sebelum Masuk Kelas/Penyambutan Anak (10 menit)
Guru menyambut kedatangan anak dengan tegur sapa, senyum dan salam. Anak-anak langsung diarahkan untuk bermain beba bersama teman-teman sambil menunggu kegiatan dimulai. Kondisi awal yang harus diketahui oleh guru dari peserta didik saat datang adalah ekspresi emosi yang menunjukkan rasa nyaman berada di sekolah. Bila kondisi ekspresi emosi anak saat datang menunjukkan kesedihan/murung, maka guru perlu menetralisir emosi anak terlebih dahulu dengan kegiatan transisi, seperti membaca buku cerita, puzzle dan sebagainya.
c. Pembukaan/Pengalaman Gerakan Kasar (20 menit)
Guru mempersiapkan seluruh anak dalam kegiatan lingkaran, lalu menyebutkan kegiatan pembuka yang akan dilaksanakan. Kegiatan pembuka dapat berupa gera musik, permainan, dan jurnal, dan sebagainya. Satu guru yang memimpin, guru lainnya menjadi peserta bersama anak (mencontohkan).
Anak dikondisikan duduk melingkar(circle time). Dalam setiap kelompok melakukan kegiatan berdo`a, diskusi tema, membacakan buku cerita yang berhubungan dengan tema hari itu.
d. Transisi (10 menit)
Selesi pembukaan, anak-anak diberi waktu untuk “pendinginan” dengan cara bernyanyi dalam lingkaran, atau membuat permainan tebak-tebakan. Tujuannya agar anak kembali tenang. Setelah tenang, anak secara bergiliran dipersilahkan untuk minum atau ke kamar kecil. Gunakan kesempatan ini untuk melatih kebersihan diri anak. Kegiatannya dapat berupa cuci tangan, cuci muka, cuci kaki maupun buang air kecil.
Sambil menunggu anak minum atau ke kamar kecil, masing-masing guru siap di tempat bermain yang sudah disiapkan untuk kelompoknya masing-masing.
e. Kegiatan Inti (90 menit)
1) Pijakan pengalaman sebelum bermain (15 Menit)
Guru dan anak duduk melingkar, guru memberi salam pada anak-anak, menanyakan kabar anak-anak, dan dilanjutkan dengan kegiatan :
a) Guru meminta anak untuk memperhatikan siapa teman mereka yang tidak hadir. Minta anak mengambil “nametag” dan menempelkan ke papan absent, atau membalik atau menunjukkan.
b) Berdo`a bersama, anak secara bergilir memimpin do`a.
c) Guru menyampaikan tema hari ini dan dikaitkan dengan kehidupan anak.
d) Guru membacakan buku yang terkait dengan tema. Setelah selesai, guru menanyakan ken\mbali isi cerita.
e) Guru mengaitkan isi cerita dengan kegiatan bermain yang akan dilakukan anak.
f) Guru mengenalkan semua tempat dan alat bermain yang sudah disiapkan.
g) Dalam memberi pijakan, guru harus mengaitkan kemampuan apa yang diharapkan muncul pada anak, sesuai rencana pembelajaran yang telah disusun.
h) Guru menyampaikan bagaimana aturan bermain (digali dari anak), memilih teman bermain, memilih alat bermain, cara menggunakan alat-alat, kapan memulai dan mengakhiri bermain, serta merapikan kembali alat yang sudah dimainkan.
i) Guru mengatur teman lain dengan memberi kesempatan kepada anak untuk memilih teman mainnya. Apabila ada anak yang hanya memilih anak tertentu sebagai teman mainnya, maka guru agar menawarkan untuk menukar teman mainnya.
j) Setelah anak siap bermain, guru mempersilahkan anak untuk mulai bermain, agar anak tidak berebut serta lebih tertib, guru dapat menggilir kesempatan setiap anak untuk memulai bermain, misalnya berdasarkan warna baju, usia, huruf depan nama anak, atau cara lainnya agar lebih teratur.
2) Pijakan Pengalaman Selama Bermain (60 menit)
a) Guru mengamati dan memastikan semua anak melakukan kegiatan bermain.
b) Memberi contoh cara bermain pada anak yang belum bisa menggunakan bahan/alat.
c) Memberi dukungan berupa pernyataan positif tentang pekerjaan yang dilakukan anak.
d) Memancing dengan pertanyaan terbuka untuk memperluas cara bermain anak. Pertanyaan terbuka artinya pertanyaan yang tidak cukup dengan di jawab ya atau tidak saja, tetapi banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan anak.
e) Memberikan bantuan kepada anak yang membutuhkan.
f) Mendorong anak untuk mencoba dengan cara lain, sehingga anakmemiliki pengalaman bermain yang kaya.
g) Mencatat yang dilakukan anak (jenis bermain, tahap perkembangan, tahap social)
h) Mengumpulkan hasil kerja anak. Jangan lupa mencatat nama dan tanggal di lembar kerja anak.
i) Bila waktu tinggal 5 menit, guru memberitahukan pada anak-anak untuk bersiap-siap menyelesaikan kegiatan mainnya.
3) Pijakan Pengalaman Setelah Bermain (15 menit)
a) Apabila waktu bermain selesai, guru memberitahu saatnya membereskan alat dan bahan yang sudah digunakan dengan melibatkan anak-anak.
b) Bila anak belum terbiasa untuk membereskan, guru dapat membuat permainan yang menarik agar anak ikut membereskan.
c) Saat membereskan, guru menyiapkan tempat yang berbeda untuk setiap jenis alat, sehingga anak dapat mengelompokkan alat bermain sesuai dengan tempatnya.
d) Bila bahan mainan sudah dirapikan kembali, satu guru membantu anak membereskan baju anak ( menggantinya bila basah), sedangkan guru lainnya dibantu orang tua membereskan semua mainan hingga semua rapi ditempatnya.
e) Bila anak sudah rapi, mereka diminta untuk duduk melingkar bersama guru. Setelah semua anak duduk dalam lingkaran, guru menanyakan pada setiap anak kegiatan bermain yang telah dilakukannya pada hari itu. Kegiatan menanyakan kembali (recalling) melatih daya ingat anak dan melatih anak mengemukakan gagasan dan pengalaman mainnya (memperluas perbendaharaan kata anak).

f. Makan Bersama ( 10 menit )
1. Usahakan setiap pertemuan ada kegiatan makan bersama. Jenis makanan berupa kue atau makanan lainnya yang disiapkan sekolah atau yang dibawa oleh masing-masing anak. Sekali dalam satu bulan diupayakan ada makanan yang disediakan untuk perbaikan gizi.
2. Sebelum makan bersama, guru mengecek ada anak yang tidak membawa makanan. Jika ada tanyakan siap yang mau berbagi makanan pada temannya.
3. Guru memberitahukan jenis makanan yang baik dan kurang baik.
4. Jadikan waktu makan bersama sebagai pembiasaan tat cara makan yang baik (adab makan)
5. Libatkan anak untuk membereskan bekas makanan dan membuang bungkus makanan ke tempat sampah.
g. Kegiatan Penutup ( 10 menit)
1. Setelah semua anak berkumpul membentuk lingkaran, guru dapat mengajak anak menyanyi atau membaca puisi. Guru menyampaikan rencana kegiatan hari berikutnya, dan menganjurkan anak untuk bermain yang sama dirumah masing-masing.
2. Guru memberi kesempatan pada anak secara bergiliran untuk memimpin do`a penutup.
3. Untuk menghindari berebut saat pulang, digunakan urutan berdasarkan warna baju, usia atau cara lain untuk keluar dan bersalaman lebih dahulu.

3. Penilaian
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, guru hendaknya mencatat segala hal yang terjadi, baik terhadap program kegiatan maupun terhadap perkembangan peserta didik. Sebagai catatan guru digunakan sebagai bahan masukan bagi keperluan penilaian. Setiap semester, hasil laporan perkembangan anak dilaporkan kepada orang tua secara lisan dan tertulis berupa rapor dalam bentuk narasi.

selanjutnya boss.. »»